Gunung rinjani

Gunung Rinjani, Pesona Keindahan Alam Eksotis di Atap Lombok

HomePariwisataNusa Tenggara Barat

Anda pecinta alam dan penikmat gunung? Belum lengkap rasanya jika Anda belum merasakan sensasi mendaki di gunung yang terkenal sangat cantik akan pesona alamnya ini. Dengan ketinggian 3.726 mdpl dan terletak di utara Pulau Lombok, Gunung Rinjani merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia. Masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani dan dikelilingi oleh hutan dan semak belukar seluas 76.000 hektar merupakan pemandangan yang asri bagi Gunung Rinjani.

Akses menuju Pulau Lombok selain dapat ditempuh melalui jalur darat menggunakan bus langsung Jakarta – Mataram dengan menyeberang menggunakan kapal ferry dua kali (Selat Bali dan Selat Lombok), juga dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang.

Gunung Rinjani memiliki kawah dengan lebar sekitar 10 km dan terdapat danau kawah yang disebut danau Segara Anak dengan kedalaman sekitar 230 m. Dengan warna airnya yang membiru bagaikan anak lautan, air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah dan mengalir melewati jurang yang curam. Banyak para pendaki yang memancing di danau ini karena banyak terdapat ikan mas dan mujair.

Ada 2 jalur pendakian untuk mencapai Puncak Rinjani, yaitu Jalur Sembalun dan Jalur Senaru. Jalur Sembalun merupakan jalur favorit para pendaki karena meskipun treknya lebih panjang namun bisa menghemat 700 m ketinggian.

Di Jalur Sembalun, pendaki akan melalui hamparan padang savana yang sangat luas dan cantik. Ada 3 pos peristirahatan di jalur ini, dan selepas dari pos 3 pendaki akan menghadapi tanjakan terjal dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Sedangkan di Jalur Senaru, pendaki akan melewati hutan tropis yang cukup lebat dan terjal. Sama halnya dengan Jalur Sembalun, jalur ini juga terdapat 3 pos peristirahatan sebelum nantinya sampai ke pos pelawangan yang biasa digunakan sebagai area perkemahan.

Pesona yang dimiliki oleh Gunung Rinjani nyaris sempurna sehingga tidak diragukan lagi jika Rinjani menjadi daya tarik yang mampu memikat minat para wisatawan mancanegara maupun nusantara untuk mendakinya. Dan mendaki Gunung Rinjani tentunya akan menjadi kenangan dan pengalaman hidup yang tidak akan terlupakan. [Anggey/IndonesiaKaya]

mt.kembang

Jalur Pendakian Gunung Kembang

KEONGTRAVELER 16:55CATATAN HARIAN KEONGGUNUNG JAWA TENGAHGUNUNG KEMBANGSEJARAH GUNUNG JAWA TENGAH

Hallo sahabat Keong, lama sudah saya tidak update cerita disini. kali ini saya akan berbagi cerita perjalanan saya mendaki di Gunung Kembang. Gunung Kembang adalah salah satu gunung dengan ketinggian 2340 mdpl berada di Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Kembarkasian, Kecamatan Kretek Kab.Wonosobo. memang gunung ini tidak setenar dengan Gunung Sumbing dan gunung Sindoro. Tapi untuk masalah viewnya tidak kalah menarik dengan kedua gunung tersebut.

Tanggal 31 Maret – 1 April 2018 gunung kembang secara resmi dibuka untuk umum nama basecamp Blembem kaliurip, basecamp tersebut biasanya digunakan untuk tempat penggepul petani kebun teh, milik perhutani karena tempatnya tersebut sangat dekat, hamapran kebun teh sangat luas. 

Nah sahabat, sebelum saya bercerita tentang perjalanan menuju basecamp dan perjalanan dari basecamp ke puncak, saya akan sedikit cerita tentang asal mula gunung ini dan sejarahnya. Berhubung saya dapet cerita langsung dari seorang bapak Edi, yang waktu itu ikut proses pembuatan jalur Gunung Kembang ini.

Menurut cerita Pak Edi, peroses pembukaan jalur Gunung Kembang ini tidak mudah. Di karenakan banyak faktor-faktor yang menghalangi seperti gangguan mistis dikarenakan gunung ini dulu dibuat ritual yang negatif. Pak Edi juga bercerita alasan kenapa ingin sekali di buka untuk jalur pendakian dikarenakan Pak Edi dan team nya tidak inggin warga dan penerus nantinya melakukan hal-hal negatif menjadi tradisi. Dan akhirnya rencana Pak Edi dan team berhasil meresmikan jalur yang di buat, pada tanggal 31 Maret – 1 April 2018 di basecamp blembem kaliurip Desa Kembarkasian, Kecamatan Kretek Kab.Wonosobo. Itu lah cerita sekilas dari Pak Edi tentang pengalaman saat membuka jalur pendakian gunung kembang.

Sekarang saatnya yang di tunggu-tunggu nih sama kalian, saya akan bercerita menurut pengalaman peribadi perjalanan menuju basecamp gunung kembang dan mendaki gunung kembang. Liburan lebaran haji kemarin saya pulang kampung ke semarang. Jalur pendakian gunung kembang ada dua yang pertama via basecamp Blembem yang kedua bisa via Lengkong dan Desa Keseneng Kecamatan Garung.

Transportasi
Berhubung jalur resmi via Blembem saya memutuskan lewat jalur resmi akses dari semarang. untuk menuju ke basecamp Blembem dari Jawa Barat dan Jawa Timur bisa menggunakan transportasi darat kereta api, dari jawa barat naik kereta api Tawang Jaya dari stasiun Senen Jakarta menuju stasiun Poncol Semarang. Jawa Timur naik kereta api dari stasiun pasar turi menuju Poncol Semarang. Sesampainya di stasiun poncol ini kita naik bus kota menuju terminal Terboyo, dilanjutkan dengan bus jurusan Wonosobo turun di pasar kentang Wonosobo, sesampainya dipasar kentang wonosobo sahabat bisa nyewa angkot atau ojek karena untuk menuju basecamp dari pasar kentang belum ada transportasi. Dari pasar kentang jika menggunakan transportasi umum bisa di tempuh kurang lebih 30 menit untuk mencapai basecamp pendakian via Blembem.

Basecamp Blembem terletak sangat strategis di kiri jalan yang lumayan lebar, jalan menuju sana juga sudah lumayan bagus. Basecamp Blembem dulunya tempat digunakan penampungan hasil panen dari kebun teh. Kondisi basecamp lumayan terawatt tapi sangat di sayangkan toilet di sana sangat kotor dan tidak layak, dan air di basecamp sungguh minim, mudah-mudahan setelah tulisan saya post di blog ini pihak basecamp Blembem memperbaiki fasilitas yang sangat kurang

Mendaki gunung Kembang kita di kenakan biaya:

  • Tiket pendakian /orang Rp.10.000
  • Parkir sepeda motor Rp.5000
  • Tiket fasilitas basecamp Toilet charger dan mushola Rp. 5000 

Sebelum mendaki pihak basecamp menjelaskan peraturan-peraturan seperti, ketika mendaki tidak menemukan bendera petunjuk yang di pasang maka pendaki positif dinyatakan salah jalur karena setiap 100 sampai 200 meter pasti di jalur pendakian di kasih bendera, selain itu para pendaki di kasih sebuah peta jalur pendakian.

Setelah dijelaskan saya dan rombongan memulai mendaki, untuk mendaki Gunung Kembang kita melewatin tujuh pos, pos terahir 8 puncak.

Jalur PendakianBasecamp – Istana Katak Star pendakian dari basecamp menuju istana katak kita melewati tengah-tengah perkebunan teh yang sangat luas, perjalanan menempuh 30 menit. Kenapa dinamakan pos katak? Dikarenakan jaman dahulu banyak orang yang mencari katak di daerah sini dan pada istirahat di pos ini jadilah nama pos katak.

Istana katak – Gerbang pendakian (Kandang Celeng) di temuh selama 15 menit. Pos ini dinamakan kandang celeng di karenakan di hutan gunung kembang ini banyak babi hutan. Setelah masuk di kandang celeng kita tidak boleh mendirikan camp di hutan ini, karena pihak warga tidak mau ada pendaki yang nanti di serbu babi hutan selain itu warga tidak mau para pendaki dengan membuka camp di hutan, banyak hutan yang rusak karena buat camp, pihak basecamp dan warga menyarankan untuk camp di atas puncak.

Gerbang pendakian (Kandang Celeng) – Pos I Liliput ditempuh 30 menit dengan jalur hutan yang masih sangat rimbun dan alami, dalam perjalanan saya melihat banyak tumbuhan yang berlumut dan berakar gantung. 

Pos I liliput – pos II Simpang 3 perjalanan masih melewati hutan yang sangat alamu dan terjaga. Untuk menuju pos II membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Kenapa pos ini di namakan pos simpang tiga karena di pos ini ada 3 jalur bekas pembukaan jalur dulunya. 
Pos II Simpang Tiga – Pos III Akar memerlukan waktu sekitar 15 menit disini jalurnya semakin menanjak dan disini hutanya semakin lebat. Selain jalurnya menanjak juga banyak akar-akar pohon yang melintang di tengah jalur pendakian semapainya di pos akar aka nada satu akar pohon seperti video saya dibawah ini akarnya bisa buat gelantungan. Jadi tau kan kenapa pos nya dinamakan pos akar? Karena banyak akar di pos ini. 

Pos III akar – Pos IV Sabana memerlukan waktu 40 menit, disini saya dan tim mulai kelelahan dan saya pribadi sudah putus asa walaupun gunung ini ternyata dari basecamp sampai puncak jalurnya tidak ada yang landai semakin menuju pos sabana semakin gila kemiringan jalur yang dilewati. Saya memutuskan untuk berhenti sebentar untuk minum, setelah minum saya melihat peta yang di bekali dari basecamp ternyata setelah pos akar pos sabana, dalam benak saya, yang namanya pos sabana itu tempatnya luas dan datar, saya bergegas untuk sampai pos sabana ternyata setelah sampai pos dalam hati cuma bisa istigfar dalam hati ternyata pos ini tidak ada datar-datarnya sekali yang ada semakin menggila pupus harapan saya untuk mendirikan tenda di pos sabana.

Pos IV Sabana – Pos V Tanjakan Mesra, setelah putus asa saya membangkitkan kembali semangat untuk melanjutkan menuju pos tanjakan mesra, jalur ini sudah keluar hutan, kanan dan kiri jalur pendakian banyak tumbuhan edelweiss jalurnya seperti namanya mesra sekali sahabat. Berhubung tidak musim hujan jalur ini banyak debu. Kenapa mesra? Untuk sampai ke pos tanjakan mesra kita harus saling bantu- membatu supaya kita tidak jatuh dan tergelincir, baik naik atu pun turun di pos ini kita harus saling berpegangan tangan atau cari pegangan akar yang kuat. Perjalanan menuju tanjakan mesra dari pos sabana kurang lebih 15 menit.

Pos V Tanjakan Mesra – Puncak, jalur pendakian menuju puncak semakin menggila sahabat, butuh waktu 15 menit menuju puncak. Sesampainya di puncak saya sangat bersyukur akhirnya penyiksaanya jalur gunung kembang telah usai. Nah sekian dulu ya sahabat cerita dari saya, perlu di catat dari basecamp sampai puncak tidak ada sumber mata air. Pemandangan yang sangat bagus di puncak saat matahari tenggelam. Di puncak bisa menampung tenda sekitar 30 tenda.

Pesan

Disini saya tidak meberikan estimasi biaya perjalanan karena estimasi biaya setiap waktu bisa berubah dan saya menganjurkan untuk tanya langsung ke petugas langsung dengan cara menghubungi petugas lewat postingan CP petugas silahkan klik di sini untuk mengetahui nomer telfon petugas gunun. 

jalur bambangan mt.slamet

Pendakian Gunung Slamet Jalur Bambangan, Atap Tertinggi Jawa Tengah

ON JUNE 21, 2016 BY RIFQY FAIZA RAHMANIN CERITA PERJALANANEVENTS

Melakukan pendakian ke Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah lewat jalur Bambangan itu, adalah persoalan bercampurnya rasa penasaran dan pemenuhan tantangan. Seperti apa sih rasanya mendaki gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru itu?

Perlahan tapi pasti, rasa penasaran akan pendakian Gunung Slamet tersebut mulai terpupus saat hari keberangkatan. Panjang dan lelahnya perjalanan dari Malang ke stasiun Surabaya Gubeng, lalu dilanjut dengan kereta api Logawa ke stasiun Purwokerto luruh seketika setibanya saya dan teman-teman setim di basecamp Bambangan. Kami disambut tuan rumah pemilik basecamp dengan suguhan makan malam nasi, mi goreng, kering tempe, telur mata sapi dan mendoan. Sangat mengenyangkan dan saya pun makan dengan kalap. “Sambutan” yang sangat hangat, bukti keramahan warga di kaki gunung.

Angin malam berembus menusuk, memasuki celah jendela dan langit basecamp. Sementara yang lain merasakan kehangatan lelap dalam sleeping bag, saya memilih tidur dengan berselimut sarung. Tak sabar untuk segera meniti jejak di hutan rimba Gunung Slamet esok pagi.

Jalur Pendakian Yang Tak Mudah
Saya dan teman-teman memulai pendakian Gunung Slamet dari Dusun Bambangan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sama seperti Ranu Pani atau B29 Argosari, saya menyebutnya desa di atas awan. Saat matahari sudah terbit, saya berdiri di sebuah teras rumah. Di kejauhan nampak awan bergulung-gulung, seolah-olah kampung ini berada lebih tinggi dari lautan awan itu.

Pendakian Gunung Slamet Jawa Tengah
Matahari terbit dan lautan awan dilihat dari Dusun Bambangan, Purbalingga, Jawa Tengah

Dusun ini memiliki hasil pertanian (utamanya sayuran) yang berlimpah. Wortel, kubis, dan bawang merah adalah komoditas yang paling dominan. Saat pagi yang cerah, dari jalan kampung terlihat jelas vegetasi hutan lebat menyelimuti seluruh tubuh Gunung Slamet. Vegetasi tersebut terhenti pada batas yang disebut Plawangan, berganti dengan lumuran pasir dan bebatuan hingga puncaknya.

Pukul 08.30. Pagi terus berlalu.

Pendakian Gunung Slamet Jawa Tengah
Tim pendakian Gunung Slamet di depan gerbang pendakian Pos Bambangan, Purbalingga. Dari kiri-kanan: Isti, Fitrah, Zaka Mubarok, Figur (belakang), Zaki Mubarok, Jeanni, Kurniawan (belakang), Frida, Lutfi (jongkok), dan saya. Foto oleh Mas Arif,

Gapura sebagai gerbang pendakian menuju puncak Gunung Slamet menjadi awal perjalanan yang sesungguhnya. Tak lama setelah melewati bentangan ladang pertanian warga, jalan setapak menanjak sudah menghadang. Matahari menerpa kami begitu keras. Pepohonan tumbuh renggang, membuat saya berpeluh cukup deras. Dengan kondisi jalur yang demikian, kami membutuhkan waktu 1 jam 45 menit untuk tiba di Pos 1 Pondok Gembirung.

Trek selanjutnya tetap tak bisa membuat kami sedikit pun menghela napas lega. Namun, vegetasi pepohonan yang mulai rapat memberi kesempatan kami menghirup napas lebih segar. Dengan waktu tempuh yang sama seperti menuju Pos 1, kami tiba di Pos 2 Pondok Walang. Di pos kedua ini, meskipun tidak ada sumber air, terdapat tanah datar cukup luas untuk mendirikan tenda.

Jalan setapak kembali menyempit, membuat saya kerap bersenggolan dengan semak-semak basah. Tanpa ada aba-aba, hujan deras mengguyur tiba-tiba dalam separuh perjalanan menuju Pos 3 Cemara. Tak ayal, trek tanah yang sudah lembab karena ternaungi hutan lebat menjadi sedikit berlumpur dan licin. Seingat saya, waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 saat kami tiba di Pos 3. Di pos ini, fisik sebagian rekan pendaki perempuan mulai melemah.

Kami mempercepat langkah, menerjang hujan dan semak-semak basah yang agak menutup jalur di beberapa titik. Sejam berselang, kami tiba di Pos 4 Samaranthu yang terkenal angker. Jarang ada pendaki yang jika tidak terpaksa akan bermalam di sini. Bersamaan dengan ketibaan kami, hujan deras yang sedari tadi membasahi tubuh mulai mereda.

Ketika teman-teman beristirahat di Pos 4, saya dan Mas Kurniawan memutuskan untuk melanjutkan langkah. Berjalan cepat ke Pos 5 Mata Air, agar segera mengambil tambahan air dan menyiapkan minuman hangat. Telah disepakati bahwa di Pos 5 nanti kami akan istirahat untuk memulihkan tubuh sejenak. Mendekati Pos 5, vegetasi mulai agak terbuka. Sementara Gunung Slamet tertutup kabut pekat.

Sumber air terdapat di sungai yang mengalir di bawah Pos 5. Menuruni jalur sempit yang cukup curam dan licin. Sekalipun baru saja turun hujan, aliran air tidak begitu keruh. Masih sangat layak untuk dimasak dan diminum langsung.

“Ah, segarnya…,” desis saya saat iseng membasuh muka.

Cukup lama kami istirahat di Pos 5. Jelang petang, saya bersama Mas Kurniawan dan Lutfi memilih berjalan duluan agar dapat segera mendirikan tenda di Pos 7 Samyang Jampang. Menurut keterangan Mas Arif, teman lokal yang menjadi pemandu kami, waktu tempuhnya maksimal 1,5 jam dari Pos 5.

Gelap sudah memadu hari saat kami melewati Pos 6 Samyang Rangkah. Trek masih cukup licin dan menyempit dalam cerukan. Memaksa saya berpegangan pada ranting berlumpur di sisi kanan maupun kiri. Rain cover tas pun kerap bersinggungan dengan cerukan dan sesekali tersangkut dengan akar yang mencuat.

Saat vegetasi mulai kembali terbuka, samar-samar terlihat sebuah gubuk beratap di depan. Semakin mendekat, barulah saya tahu pasti jika kami sudah tiba di Pos 7. Akhirnya, 11 jam perjalanan menemui ujung di sini. Segera kami bergegas mendirikan dua buah tenda, satu di dalam pos, satu lagi di luar.

Seiring dengan kedatangan teman-teman yang lain, api kompor sudah menyala terang. Menu makan malam sedang dimasak, siap untuk mengisi ulang energi kami yang terkuras. Saya mengakui, meskipun “hanya” menjadi yang tertinggi kedua di Pulau Jawa, Gunung Slamet tak begitu saja memberikan kemudahan bagi pendakinya.

Summit Attack!
Saya baru benar-benar terbangun pada pukul 03.30. Begitu membuka mata, tubuh ini rasanya seolah ditusuk banyak jarum akupunktur. Nyaris setiap sendi terasa kaku, bagaikan terbelenggu dalam ranjang penghakiman. Saya tak ada maksud bercanda, tetapi sungguh butuh perjuangan cukup ekstra untuk bangkit dari tidur. Suara gemeretak pada sendi-sendi terdengar lirih saat meregangkan tubuh. Mirip suara derit pintu yang engselnya karatan.

Puncak tinggal 1,5 jam lagi. Saya berharap semoga tubuh saya tidak copot selama perjalanan.

Sejam berselang, usai melengkapi diri dengan perlengkapan “tempur”, saya dan teman-teman memulai langkah ke puncak. Meninggalkan camp di Pos 7 untuk sejenak. Seulas garis tipis sang fajar mulai terlihat di ufuk timur. Cukup untuk dijadikan pertanda bahwa pagi ini akan cerah.

Pendakian Gunung Slamet Jawa Tengah
Sang fajar mulai merekah di ufuk timur

Jalur pendakian yang terbentuk di tengak cerukan sempit kembali lapang, kala kami tiba di Pos 8 Samyang Ketebon. Sebuah tempat datar sempit, semata hanya tempat transit.

Sang fajar semakin merekah ketika kami merengkuh vegetasi terakhir di Pos 9 Plawangan. Plawangan, atau batas vegetasi di gunung ini ditandai dengan seonggok pohon cantigi dan papan besar berwarna jingga. Tetenger yang disebut terakhir menjadi penanda paling penting saat turun nanti. Semoga kabut tak tergesa menangkupnya. Medan pendakian pun berubah menjadi bebatuan dan tanah merah yang cukup licin.

Kami mulai berjalan terpencar. Menyisakan jarak yang cukup berjauhan, bergantung pada batas fisik dan mental masing-masing. Tapi tak ada kata batas untuk saling memberi semangat. Adagium alon-alon asal kelakon” menjadi senjata menapaki tanah merah gunung ini. Melangkah perlahan tapi pasti, karena puncak tertinggi sudah menanti.

Megahnya Puncak Gunung Slamet
Sudah satu setengah jam berlalu dari Pos 7 Samyang Jampang. Tanjakan sudah purna tugasnya menguji ketabahan para pendaki.

Kini terhampar tanah berbatu datar yang memanjang. Mengedarkan pandangan ke segala penjuru, semuanya begitu lepas tanpa pembatas. Batas-batas itu kembali pada pendaki, termasuk saya. Di titik ini, saya seperti mendapatkan kesempatan untuk meluapkan keharuan, kebahagiaan, dan kebanggaan. Kesempatan yang hanya datang sekejap saat berhasil menjejak di puncak gunung tertinggi. Plakat biru yang terserak begitu saja di tanah, menjadi bukti sahih yang mendukung atas keberhasilan tersebut. Tinta putih menggoreskan barisan abjad: Gunung Slamet, 3.428 Mdpl. Begitulah papan itu terbaca.

Raut wajah semringah, teriakan syukur menggema, kepalan tangan mengudara, sampai sujud mencium tanah keras berbatu. Begitulah polah saya dan teman-teman setibanya di puncak tertinggi Gunung Slamet. Rasa lelah mendadak lenyap seketika, luruh. Kami bagaikan kapal yang melepas sauh. “Bersandar” sejenak setelah mengarungi perjalanan berat sejak kemarin.

Pendakian Gunung Slamet Jawa Tengah
Kami yang pertama tiba di puncak Gunung Slamet

“Hore! Kita sudah sampai di puncak!” teriak si kembar Zaki dan Zaka memecah kesunyian.

Mereka pun berpelukan erat, saya berusaha merekamnya dengan cermat. Melihat mereka bagaikan menyaksikan adegan slow motion seperti dalam sinetron. Adegan berpelukan dengan teriakan haru dan bangga, seakan berakhir dengan bahagia.

Pendakian Gunung Slamet Jawa Tengah
Gunung Ciremai terlihat menyembul di kejauhan

Sembari menunggu teman-teman tiba di puncak, saya mencoba memotret sekitar. Pemandangannya sangat memukau. Menatap ke arah barat, Gunung Ciremai, tanah tertinggi di Jawa Barat terlihat kecil.

Komposisi menarik saya dapatkan saat menghadap ke arah matahari. Seorang rekan setim sedang berdiri tak jauh dari puncak, seakan melihat dua gunung yang berdiri bersandingan: Sindoro dan Sumbing. Di antaranya, terhampar lautan awan yang lembut bagaikan kapas. Menggoda saya untuk melompat dan bergulung-gulung di atasnya.

Pendakian Gunung Slamet Jawa Tengah
Siluet rekan setim menghadap Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang bersandingan di tengah gumpalan awan.

Berpaling 180 derajat dari timur, saya melihat kepulan asap dari kawah aktif Gunung Slamet. Di dekatnya, terdapat tugu triangulasi, sebuah patok batas dua kabupaten: Purbalingga dan Banyumas. Alangkah besarnya gunung ini, karena ketika saya mendekati patok batas tersebut, saya serasa menginjakkan kaki di dua kabupaten. Kaki kanan di Purbalingga, kaki kiri di Banyumas. Sama seperti di Gunung Arjuno, terdapat patok batas antara Kabupaten Malang dan Pasuruan.

Pendakian Gunung Slamet
Kawah aktif di puncak Gunung Slamet

“Ayo, turun,” ajak teman-teman bersahutan.

Sudah saatnya untuk turun, lalu bergegas pulang. Rasa berat hati dan enggan pergi dari tempat berdiri dikikis oleh logika. Sebelum kabut membentang, sebelum badai menghadang. Toh, matahari juga kembali terselimuti awan kelabu.

Pendakian Gunung Slamet Jawa Tengah
Satu potret terakhir sebelum turun dari puncak Gunung Slamet

Aduhai, gunung ini. Walau namanya tak “seindah” alamnya, tapi namanya mengandung doa untuk semua. Untuk saya, para pendaki, dan warga lokal. Jika nama adalah doa, maka tepat jika gunung ini dijadikan contoh. “Slamet” dalam bahasa Jawa bermakna selamat. Maka, sekalipun ia senantiasa bergejolak dalam ruang kawah dan kepulan asapnya, ada doa agar keselamatan tetap menaungi bagi kehidupan di dalamnya atau di kaki gunungnya.

Pendakian Gunung Slamet
Perjalanan turun dari puncak Gunung Slamet

Amin, ucap saya sembari menangkupkan telapak tangan ke muka. Perjalanan pulang masih panjang, yang hanya dengan mencoba menikmati semuanya akan mudah dilalui.

Salam pelangi. (*)

indahnya kerinci yang tak terawat

Keindahan Kerinci yang Tak Terawat

8 April 2017   07:20 Diperbarui: 29 April 2017   21:53  1012  1 0

Keindahan Kerinci yang Tak Terawat

danau gunung tujuh kerinci jambi

kerinci adalah negeri yang indah memiliki panorama wisata dan budaya yang beragam, gunung ,danau,air terjun peninggalan zaman purba keindahan alam yg masih alami yang dapat kita nikmati sejauh mata memandang, begitulah hal yang saya katakan pada teman2 di pekanbaru riau sehingga mereka pun memutuskan untuk berlibur ke kerinci 

Dan dua minggu yang lalu di pandu saya sebagai pemandu wisata dadakan maklum kebetulan saya asli orang sana, kami berangkat berlibur kekerinci ,dengan penuh semangatnya kami mempersiapkan segala keperluan,planing awalnya kami menggunakan travel menuju ke kerinci tapi stelah memikirkan evisiensi waktu dan perjalanan nanti akhirnya kami memutuskan untuk menggunaka motor sekalian touring yg kebetulan teman2 kebanyakan adalah anak klub motor yg pling suka touring, 

Perjalananpun kami mulai star di kota pekanbaru menuju payakumbuh kemudian ke arah batu sangkar menuju solok via singkarak dan melewati danau kembar terus ke muaro laboh dan ke kebun teh kayu aro kerinci jambi. Sebenarnya ada juga trayek laen yg bisa kita lewati yakni pekanbaru-payakumbuh-bukittinggi-padang-pesisir selatan tapn dan kota sungai penuh tetapi akan lebih lama 1 jam kurang lebih.

Sesampai di kerinci berbagai destinasi wisata di kerinci kami kunjungi oh ya kerinci sendiri merupakan branding icon wisata nya propinsi jambi dengan gunung kerincinya. Tempat pertama kali kami kunjungi adlah air terjun telun berasap nan exsotic bila cuaca cerah kita akan bisa melihat warna warni pelangi di sekitar air terjun akibat dari percikan air yg jatuh kemudian menjadi seperti asap sehingga jika di pantulkan dengan sinar matahari menjadikan pelangi yg indah tapai sayang saat kami di sana cuaca lagi mendung, dan kami hanya bisa menggigil kedinginan , setelah puas menikmati air terjun ,kami lanjut ke kebun teh kayu aro untuk menginap di homsty , cuacanya nya pasti dinginnn brrr khas pegununungan apalagi homstay nya berada di kaki puncak tertinggi sumatra dengan latar belakang perkebunan teh kayu aro yg konon katanya salah satu perkebunan teh terluas di dunia dan teh dengn kwalitas dunia. 

Keesokan harinya lanjut menjelalah kerinci kami menuju ke aroma peco kayu arao, bukit tengah ohya bukit tengah adalah kompleks kantor bupati kerinci yang betada di atas bukit yg lumayan tinggi di atas bukit ini bisa kita lihat sebagian lembah kerinci ,lanjut ke air hangat semurup dan mandi air panas di sungai medang, dan kami lanjut ke kota sungai penuh untuk makan siang  menu yg kami pilih adalah gulai ikan semah yg merupakan ikan khas kerinci dan dendeng batokok ,dengen batokok ini beda sama dedeng yg biasa di rumah makan padang karna tekstur dagingnya lembut serta dagingnya di panggang . Setelah menikmati makan siang kami lanjut ke bukit khayangan yg untuk melihat keindahan lembah kerinci dan kota sungai penuh, kemudian kami menikmati ke eksotikan danau kerinci dari taman husein ,tanjung pelita dan lanjut ke dermaga sanggaran agung dan lanjut kembali ke kota sungai penuh untuk istirahat sebelum pulang ke esokan pagi nya, sebenarnya ada banyak lagi destinasi wisata kerinci yg belum kami jelajah namun karena terbatasnya waktu akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke pekanbaru, destinasi yg belum kita kunjungi di antaranya desa wisata lempur di sana ada danau kaco yg terkenal bening berwarna biru, danau lingkat serta danau dua di sana juga bisa kita nikmati budaya adat masyarakat setempat. Ada juga air terjun talang kemulun,air terjun pancuran rayo, danau gunung tujuh,mendaki gunung kerinci.. Tapi lain waktu kita akan berkunjung lagi. Dari perjalanan ini teman teman merasa sangat terpesona dengan keindahan alam kerinci yg sangat indah udaranya yg sejuk dan makannya yg uenakk terutama gulai ikan semah nya dengan beras asli kerinci beras payo. Tetapi satu hal yg membuat mereka kecewa sebagai branding icon wisata propinsi jambi ,objek wisata di kerinci terksan tidak terurus di biarkan pemerintah daerah hanya mau memgambil distribusi tiket nya saja tampa ada nya petbaikan fasilitas dan kebersihan objek wisata yang terkesan kotor dan sebagian fasilitas rusak seperti wc yg kotor bau dan rusak, rumput yg udah tinggi terabaikan bahkan sampah yg berserak , yang merusak keindahan objek wisatanya yg seharusnya dapat nilai plus akhirnya dapat minus. Saya sendiri merasa sedikit kecewa .

Pemerintah kerinci dan kota sungaipenuh tidak serius mengurus pariwisatanya padahal potensinya sangat bagus. Harusnya pemrintah sudah tau potensi ini namun mereka terlalu sibuk mengurus jabatan dan kantong2 pribadi. 

Dan saya berharap saat kami kembali wisata kerinci telah bersolek kembali..

mistisnya lawu

Mendaki Gunung Lawu yang Bernuansa Mistis

Selain terkenal akan keindahannya, gunung ini juga dikenal sebagai gunung beraroma mistis yang penuh misteri. Namun, pendakiannya tetap seru dilakukan. Ditambah makan di warung ata awan di Indonesia.

Terletak di Pulau Jawa dan memiliki ketinggian 3.625 mdpl, Gunung Lawu mungkin merupakan salah satu gunung di Indonesia yang memiliki pesona sangat menawan. Berada di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya di antara 3 kabupaten, yaitu kabupaten Karanganyar, kabupaten Ngawi, dan kabupaten Magetan, gunung ini memiliki kisah yang cukup menarik.

Beberapa fakta menarik yang justru semakin membuat pendaki tertarik menaklukan gunung Lawu. Salah satunya, mitos terkait gunung tersebut, yang dijadikan sebagai tempat persembahan atau pesugihan bagi orang-orang yang menginginkan kekayaan dan kesuksesan secara instan.

Namun dibalik kisah tersebut, Gunung Lawu sangat terkenal di kalangan pendaki sebagai gunung dengan jalur pendakian indah nan menantang. Untuk mencapai puncak gunung purba tertua di pulau Jawa ini terdapat dua gerbang, yakni melalui jalur Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang.

Cemoro Sewu terkenal lebih garang, namun membuat pendaki lebih cepat sampai ke puncak. Sedangakan jalur Cemoro Kandang cocok menjadi pilihan untuk melakukan pendakian yang lebih santai. Buat pemula juga lebih cocok lewat jalur Cemoro Kandang. Selain itu di jalur Cemoro Sewu juga terdapat banyak sendang (mata air), salah satunya sendang Derajat yang bisa kita gunakan untuk mengisi perbekalan air.

Di kawasan Gunung Lawu juga terdapat berbagai macam destinasi wisata alam, seperti candi Cemoro Sewu, Tawangmangu, Telaga Sarangan, Kompleks Candi peninggalan zaman Kerajaan Majapahit (Candi Sukuh dan Candi Cetho), perkebunan teh yang sangat luas, taman Balekambang, Perbukitan Sekipan, komplek pemakaman Astana Giriloyu dan Astana Mangadheg, di antara komplek pemakaman tersebut terdapat komplek pemakaman keluarga Presiden RI Ke-2, Suharto yang bernama Astana Giribangun.


Warung Tertinggi di Indonesia
Di Gunung Lawu terdapat warung yang sangat terkenal sebagai warung tertinggi di Indonesia, yaitu Warung Mbok Yem, biasanya pendaki bermalam di sini karena warungnya cukup luas, dan bisa menampung banyak pendaki sebelum ke puncak. Sambil menikmati minuman hangat, kita pun dapat melihat indahnya pemandangan di sekitar gunung. Menjelang sore hari, kabut dari puncak gunung mulai turun. Sehingga menambah suasana sejuk dan dingin, membuat kita semakin larut dalam suasana alam yang rindang.

Tak cukup hanya menikmati pemandangannya saja, di dekat warung Mbok Yem juga terdapat sebuah bangunan unik, yaitu rumah botol, rumah yang dibangun dari botol-botol bekas yang ditinggalkan para pendaki. Di tempat ini, kita bisa mengabadikan moment tersebut dengan berfoto.

Pastinya yang harus kita ingat dan perhatikan untuk selalu menjaga kebersihan di atas Gunung Lawu. Setelah selesai kamping selalu kumpulkan sampah-sampah yang kita bawa hingga turun ke lereng gunung nanti.

sumbingku

Pesona Keindahan Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah

Informasi Umum

Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah adalah salah satu tempat wisata yang berada di desa temanggung, kabupaten temanggung, provinsi jawa tengah, negara indonesia. Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah adalah tempat wisata yang ramai dengan wisatawan pada hari biasa maupun hari liburan. Tempat ini sangat indah dan bisa memberikan sensasi yang berbeda dengan aktivitas kita sehari hari.

Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah memiliki pesona keindahan yang sangat menarik untuk dikunjungi. Sangat di sayangkan jika anda berada di kota temanggung tidak mengunjungi wisata alam yang mempunyai keindahan yang tiada duanya tersebut.

Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah sangat cocok untuk mengisi kegiatan liburan anda, apalagi saat liburan panjang seperti libur nasional, ataupun hari ibur lainnya. Keindahan Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah ini sangatlah baik bagi anda semua yang berada di dekat atau di kejauhan untuk merapat mengunjungi tempat Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah di kotatemanggung.

Lokasi

Dimana lokasi Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah ? seperti yang tertulis di atas lokasi Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah terletak di desa temanggung, Kecamatan temanggung, Kabupaten temanggung, Provinsi jawa tengah.

Tetapi jika anda masih bingung di mana lokasi atau letak Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah saya sarankan anda mencari dengan mengetik Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah di search google maps saja. Di Google maps sudah tertandai dimana lokasi yang anda cari tersebut.

Daya Tarik

Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah merupakan tempat wisata yang harus anda kunjungi karena pesona keindahannya tidak ada duanya. Penduduk lokal daerah temanggung juga sangat ramah tamah terhadap wisatawan lokal maupun wisatawan asing.

Kota temanggung juga terkenal akan keindahan obyek wisatanya , salah satu contohnya adalah Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah ini. letak gunung sumbing berada dalam wilayah tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Magelang, Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.

Gunung sumbing memiliki ketinggian kurang lebih sekitar 3371 mdpl yang merupakan gunung tertinggi ketiga di pulau Jawa. Sejarah letusan terakhir gunung sumbing sampai sekarang masih belum diketahui, namun yang jelas gunung sumbing ini memiliki sebuah kawah aktif yang terdapat dipuncak gunung sumbing. Kawasan gunung sumbing ini memiliki beberapa bagian seperti kawasan hutan dipterokarp bukit, dipterakarp atas, hutan montane, dan hutan ericaceous atau hutan gunung.

Dan untuk pendakian kali ini saya beserta tim rombongan akan melakukan pendakian gunung sumbing dengan melewati jalur garung.ama gunung sumbing memiliki sebuah cerita tentang kisah sepasang suami istri yang menjalani kehidupan sebagai seorang petani.

kedua pasangan suami istri tersebut memiliki dua orang anak laki laki, dan seiring berjalannya waktu kedua anak tersebut sering terlibat pertengkaran sepanjang hari, dengan perilaku kedua anak tersebut sang ayah pun marah dan sampai pada puncak kesabarannya, akhirnya sang ayah pun memukul kedua anak tersebut dan mengakibatkan salah satu bibir anak tersebut menjadi robek ( Sumbing ).

Dan pada akhirnya kedua anak tersebut di abadikan dengan nama ( Ndoro ) dan ( Sumbing ). kedua nama ini memiliki arti sesuai dengan kpribadian mereka masing masing Ndoro adalah julukan anak yang memiliki sikap santun, bijaksana dan saling melindungi sedangkan sumbing adalah julukan dari anak yang memiliki sikap perwatakan yang brutal dan nakal.

Fasilitas

Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah bisa dibilang sebuah wisata alam yang memiliki beberapa akan fasilitas dan pelayanan di antaranya sebagai berikut :

– Area Parkir kendaraan

– Mushola

– Kamar mandi / MCK

– Penginapan

– dan masih banyak lainya

Transportasi

Bagi wisatawan asal kota temanggung sudah tidak bingung lagi untuk mendatangi lokasi Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah. Akan tetapi bagaimana bagi wisatawan luar kota bahkan luar negeri, tentu mereka bingung dan takut kesasar. Tapi jangan khawatir bagi wisatawan luar kota temanggung saya mempunyai solusinya agar anda semua tidak kesasar.

Tentunya sarana transportasi apa yang anda pakai untuk berwisata ke Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah dengan memakai kendaraan pribadi seperti : Mobil atau motor pribadi. Anda bisa meminta panduan arah ke Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah di google maps yang terpasang di smartphone anda. Karena memakai kendaraan pribadi akan lebih menyenangkan dari pada memakai kendaraan umum.

Akan tetapi jika anda memakai kendaraan umum seperti : bis umum atau angkutan lainnya juga bukan masalah besar, pasalnya anda bisa berhenti di terminal bus kota atau desa tujuan anda. Setelah itu melanjutkan dengan menggunakan ojek ataupun kendaraan pribadi anda menuju lokasi Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah tersebut.

Saran dan Tips

Saran dan tips sebelum menuju ke tempat Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah,anda perlu mempersiapkan keperluan yang akan butuhkan. Serta beberapa barang tambahan seperti kamera karena anda pasti ingin mengabadikan moment bersama kelurga ataupun teman – teman anda.

Jangan lupa bawa perlengkapan kesehatan (contohnya adalah sabun, tissue basah, sampo, antiseptik). Siapkanlah fisik dan kendaraan anda supaya liburan anda berjalan dengan lancar. Jaga kondisi diri anda dan selalu berhati – hati.

Peta Lokasi

Demikianlah sedikit ulasan mengenai Pesona Keindahan Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah yang dapat saya informasikan di web https://ihategreenjello.com. Semoga bisa menginspirasi anda semua untuk mencoba berwisata ke Wisata Gunung Sumbing di Temanggung Jawa Tengah Sebagai referensi inilah kumpulan wisata wisata terindah di kota temanggung Semoga informasi yang saya berikan bisa bermanfaat untuk anda semua.

sindoro tersembunyi

Gunung Sindoro, Sembunyikan Keindahan Dalam Jalur Menantang

6 Desember 2017 – Reading Time: 6 minutes

  • Total Shares: 0

Gunung Sindoro adalah salah satu gunung populer yang berada di Jawa Tengah. Dengan ketinggian 3.153 mdpl, Gunung Sindoro menjadi gunung tertinggi ketiga di Jawa Tengah. Karenanya, tak heran bila gunung ini selalu ramai oleh pengunjung yang ingin merasakan pendakian di jalur panjang dan penuh tantangan. Tawaran keindahan di puncaknya juga akan puaskan siapa pun yang melihatnya.

Kamu berencana untuk menikmati keindahan puncak Sindoro dalam waktu dekat? Yuk, cari tahu terlebih dulu informasi lengkap tentang Gunung Sindoro di bawah ini:

Keistimewaan Gunung Sindoro

Siapa yang tidak mengenal Gunung Sindoro? Gunung ini menyimpan keindahan yang luar biasa. Daya tariknya pun tak perlu diragukan lagi. Agar semakin yakin, berikut adalah keistimewaan Gunung Sindoro yang perlu kamu tahu:

Bersebelahan dengan Gunung Sumbing

(Sumber: @suriyadi_pratama)

Gunung Sindoro dan Sumbing merupakan dua gunung yang letaknya berdekatan. Memiliki bentuk dan tinggi yang tak jauh berbeda, kedua gunung ini pun kerap dijuluki “gunung kembar”. Kemiripan ini pula yang membuat banyak orang sulit membedakan antara Gunung Sindoro dan Sumbing.

Saat mencapai puncak Gunung Sindoro, kamu akan melihat jelas pemandangan Gunung Sumbing di seberang. Sebaliknya, jika kamu mendaki Gunung Sumbing, maka Gunung Sindoro lah yang akan menjadi panorama cantik di puncaknya. Kumpulan awan di sekeliling Gunung Sumbing pun menjadi pesona khas yang selalu dijadikan objek foto para pengunjung.

Hamparan padang edelweiss yang mengagumkan

(Sumber: @maulidya_chilma)

Pendakian ke Gunung Sindoro akan semakin menyenangkan karena kamu akan melewati sabana yang dipenuhi bunga edelweiss. Meski begitu, padang edelweiss baru akan kamu temui setelah melalui Pos 3 Gunung Sindoro. Keberadaan bunga edelweiss juga menjadi tanda bahwa kamu sudah dekat dengan puncak.

Selain panorama puncak yang indah, keberadaan bunga edelweiss ini pun menjadi alasan para pendaki yang datang. Tak sedikit pula, pengunjung yang mendirikan tenda ataupun  menghabiskan waktu berfoto di padang edelweiss tersebut. Jika kamu ingin melihat pesona bunga abadi ini, datanglah di antara bulan Mei hingga Agustus.

Ada “danau” di puncak gunung

(Sumber: @darobbi)

Gunung Sindoro merupakan gunung berapi aktif. Di puncaknya terdapat Kawah Jolotundo, kawah aktif yang mengeluarkan asap dan gas sulfutara (belerang). Menariknya, terdapat dua “danau” kecil berisi air jernih di kawah mati tersebut. Kedua danau yang hanya dipisahkan oleh dinding kawah itu dikenal dengan sebutan Telaga Ajaib di kalangan pendaki.

Telaga Ajaib memiliki fenomena alam yang unik karena kemunculannya hanya terjadi pada saat musim hujan. Hal tersebut karena telaga terisi oleh genangan air hujan yang melimpah. Lama-kelamaan, air telaga pun akan habis karena kebanyakan pendaki mengambil air tersebut untuk dijadikan persediaan saat perjalanan turun.  

Kawasan kawah memang bebas dikunjungi siapa saja, namun kamu perlu waspada terhadap gas sulfutara yang masih aktif keluar dari kawah. Asap tersebut biasanya keluar dengan intensitas tinggi saat kondisi turun hujan. Makanya pada kondisi tertentu, pendaki di Gunung Sindoro diharapkan tidak turun ke bagian kawah.

Ritual unik 1 Sura

Setiap malam 1 Sura atau Tahun Baru Islam pada penanggalan Jawa-Islam, banyak penduduk lokal yang mendaki Gunung Sindoro untuk mengadakan selamatan di puncak selama satu malam. Ritual religi yang sudah dilakukan secara turun-temurun ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur terhadap Sang Pencipta.

Saking uniknya, ritual tersebut justru mengundang rasa penasaran banyak pendaki.  Karenanya, setiap momen tersebut Gunung Sindoro kerap dipenuhi pendaki yang ingin menyaksikan ritual secara langsung.

Lokasi dan akses menuju Gunung Sindoro

(Sumber: @wandi_iryanto)

Gunung Sindoro terletak di antara Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung dengan ketinggian 3.153 mdpl ini merupakan gunung berapi aktif tipe volkano atau gunung yang sedang tertidur dan sewaktu-waktu mengalami erupsi. Dalam sejarah, gunung ini pernah menunjukkan kenaikan aktivitas vulkanik pada 1970. Sedangkan di tahun 2011, Gunung Sindoro kembali mengeluarkan asap sulfutara tebal dengan aktivitas gempa yang intens.

Meski begitu, Gunung Sindoro cukup aman untuk didaki. Hingga saat ini, telah dibuka beberapa jalur pendakian menuju Gunung Sindoro yaitu jalur Kledung, Sigedang Tambi, Sibajak, dan Jlumprit. Dari keempat jalur tersebut, jalur Kledung menjadi favorit para pendaki. Selain memiliki akses tercepat, jalur ini juga dilengkapi petunjuk arah untuk memudahkan para pengunjung.

(Sumber: @kurniawan_dedic)

Base camp Kledung berada di Desa Kledung, Kabupaten Temanggung, tepatnya di samping Balai Desa Kledung. Untuk menuju base camp tersebut, kamu bisa naik bus jurusan Magelang – Wonosobo dan turun di Desa Kledung dengan patokan Restoran Dieng Kledung Pass.  Base camp Kledung juga amat mudah ditemukan karena berada tepat di tepi jalan raya.

Pada pendakian menuju puncak Gunung Sindoro, kamu akan menemukan berbagai variasi trek. Dari base camp, kamu akan lebih dulu melalui jalur bebatuan yang tersusun rapi. Di sepanjang jalan, kamu akan melewati perkampungan warga, ladang sayuran warga, hingga akhirnya sampai di kebun tembakau yang sangat luas. Menariknya, pendakian menuju Pos 1 memberikan banyak bonus berupa pemandangan yang indah.

Jika ingin menghemat tenaga atau menyingkat waktu, kamu bisa naik ojek dari base camp hingga Pos 1. Namun, kamu harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menggunakan fasilitas tersebut. Selanjutnya, perjalananmu hingga Pos 2 masih akan didominasi dengan jalur landai yang dikelilingi hutan dan semak belukar.

Dimulai dari Pos 2, kamu akan segera menghadapi medan yang menanjak. Bagi yang belum terbiasa mendaki, kamu mungkin akan kesulitan karena jalur hanya berupa jalan tanah bebatuan. Apalagi, jarak dari Pos 2 ke Pos 3 terhitung jauh sehingga akan sangat menguras tenaga.

Setibanya di Pos 3, kamu bisa mendirikan tenda dan beristirahat. Area luas yang dikelilingi pepohonan membuat Pos 3 cocok dijadikan sebagai lokasi berkemah. Ada pula area Sunrise Camp yang berada tak jauh dari Pos 3. Sunrise Camp kerap dipilih pendaki yang ingin melihat matahari terbit langsung dari tenda. Kamu juga akan melihat pemandangan Gunung Sumbing, serta Gunung Merbabu dan Merapi dari kejauhan.

Meski begitu, kamu tidak disarankan berkemah di area Sunrise Camp. Lokasinya yang berada di area terbuka tanpa pepohonan membuat kegiatan kemah cukup berbahaya. Terlebih saat cuaca buruk yang bisa menyebabkan tenda tidak stabil.

Setelah bermalam di Pos 3 atau Sunrise Camp, lanjutkan perjalanan menuju puncak. Perjalananmu menuju summit akan semakin berat dengan melalui Hutan Lamtoro dan Batu Tatah. Batu Tatah merupakan area terbuka yang ditandai dengan banyaknya batu-batu besar. Medan tersebut tentu akan menguras banyak tenaga, namun karena jalurnya terbuka kamu bisa leluasa menikmati pemandangan alam tanpa adanya penghalang.

Keluar dari area Batu Tatah, kamu akan menemukan Pos 4 hingga sampai di sabana yang didominasi bunga edelweiss. Padang sabana ini menjadi bonus sekaligus tanda bahwa perjalananmu ke puncak sudah semakin dekat.

Fasilitas dan akomodasi di Gunung Sindoro

(Sumber: @bayu_fhairulumam)

Base camp Kledung Gunung Sindoro memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Selain menjadi markas tim SAR Grasindo, base camp ini menyediakan aula sebagai tempat istirahat, tempat penitipan barang, toilet umum, hingga area parkir. Tak jauh dari base camp, pengunjung juga bisa menemukan masjid.

Bagi yang ingin mengisi perut, di sekitar base camp juga tersedia banyak warung sederhana yang menjajakan aneka makanan dan minuman. Para pendaki bahkan bisa memesan nasi bungkus sebagai bekal di perjalanan. Fasilitas penting lain yang disediakan base camp adalah air bersih untuk keperluan logistik.

Sekadar informasi, minimnya sumber air di Gunung Sindoro membuat para pendaki harus membawa cadangan air yang cukup banyak. Selain itu, cuaca di sana terkenal cukup panas dan berdebu. Karena itulah, pendakian lebih baik dilakukan pada malam hari untuk menghindari risiko dehidrasi atau lelah akibat cuaca terik.

Terakhir, di base camp Kledung kamu juga bisa menemukan penjual suvenir khas Gunung Sindoro. Mulai dari kaus, gantungan kunci, hingga stiker tentu bisa menjadi buah tangan yang cocok bagi teman dan keluarga di rumah.

sukamade

Pantai Sukamade

triptrus.com
triptrus.com

Salah satu pantai cantik di Banyuwangi yang tidak kalah keren adalah pantai Sukamade. Pantai ini memiliki kejernihan air yang luar biasa. Kealamiannya juga masih sangat terjaga. Kelebihan pantai Sukamade dari pantai lain di Banyuwangi adalah adanya konservasi penyu. Jangan lupa untuk lakukan persiapan fisik, karena untuk menuju ke sana kamu harus melewati medan yang cukup sulit.

Itulah 10 destinasi wisata yang keren di Banyuwangi. Baca juga berbagai kuliner di Pontianak. Siapa tau suatu saat kamu main ke sana.

pesona gunung Prau

Pesona Memukau Gunung Prau di Dataran Tinggi Dieng Wonosobo

0SHARESShareTweetPinterest

Gunung Prau

Nyero.id – Gunung Prau merupakan puncak yang tertinggi di kawasan dataran tinggi Dieng.  Lokasi Gunung Prau terletak di tapal batas antara tiga kabupaten yang meliputi wilayah Kabupeten Batang, Kendal dan Wonosobo.

Eksotisme gunung yang menyajikan golden sunrise mempesona ini sudah sangat populer di kalangan para pendaki gunung.

Terlebih bagi para pendaki pemula karena pendakiannya membutuhkan jarak tempuh yang relatif singkat, yaitu sekitar 2-3 jam saja.

Gunung Prau sangat populer dikalangan traveler dan menjadi salah satu destinasi pendakian favorit di kalangan pendaki gunung, terutama di wilayah Jawa sejak tahun 2014 silam.

Gunung Prau bukanlah gunung berapi dengan pesona golden sunrise nya yang tersohor, bahkan banyak kalangan yang menyebutkan bahwa golden sunreise terbaik se-Asia Tenggara ada di puncak Gunung Prau.

Keindahan Puncak Gunung Prau
Photo by @latiftompel

Selain goleden sunsrie, Gunung Prau juga menyajikan pemandangan alam yang sangat mempesona berupa perkebunan warga yang menghijau, pemandangan dataran tinggi Dieng dan Telaga Warna di kejauhan.

Lalu padang bunga Daisy yang begitu berwarna, bukit Teletubies hingga pemandangan beberapa puncak gunung di Jawa, seperti Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu dan Slamet.


Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai